gambar ilustrasi
JAKARTA, LAJUSIAR.COM — Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026). Rupiah ditutup di level Rp17.882 per dolar AS, menguat 84 poin atau 0,47 persen dari posisi sebelumnya Rp17.966.
Rupiah Menguat 0,47 Persen
Penguatan rupiah terjadi di tengah perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat serta kondisi pasar keuangan global.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan penguatan rupiah antara lain dipengaruhi berkurangnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Pergerakan dolar AS juga menjadi perhatian karena perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pasar Menunggu Data Tenaga Kerja AS
Pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang dapat memengaruhi pandangan investor terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Reuters melaporkan investor AS menunggu laporan nonfarm payrolls untuk September. Data tersebut diperkirakan menunjukkan perlambatan pertumbuhan pekerjaan, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di sekitar 4,1 persen.
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga AS kemudian dapat memengaruhi pergerakan dolar dan mata uang lainnya di pasar global.
Sejumlah Mata Uang Asia Ikut Menguat
Penguatan rupiah pada perdagangan Jumat juga berlangsung bersamaan dengan kenaikan sejumlah mata uang Asia terhadap dolar AS.
Won Korea tercatat menguat sekitar 0,87 persen, diikuti dolar Taiwan 0,48 persen, peso Filipina 0,40 persen, dan baht Thailand 0,38 persen. Yen Jepang naik 0,34 persen, dolar Singapura 0,17 persen, sedangkan ringgit Malaysia menguat 0,04 persen.
Di sisi lain, dolar Hong Kong menjadi salah satu mata uang Asia yang tercatat melemah terhadap dolar AS pada perdagangan tersebut.
Pergerakan Rupiah Masih Dipantau
Penguatan rupiah pada akhir perdagangan belum serta-merta menunjukkan perubahan tren jangka panjang. Pergerakan nilai tukar masih dipengaruhi berbagai faktor global dan domestik, termasuk kondisi pasar obligasi AS, kebijakan bank sentral, serta sentimen investor.
Pasar selanjutnya akan mencermati data tenaga kerja AS untuk melihat dampaknya terhadap ekspektasi kebijakan The Fed dan pergerakan dolar AS.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan penulisan ulang berdasarkan laporan pergerakan rupiah pada perdagangan 2 Oktober 2026 serta perkembangan pasar keuangan global. Nilai tukar dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan bukan merupakan rekomendasi transaksi valuta asing.
COMMENTS