Dok. PT Vale Indonesia
JAKARTA, LAJUSIAR.COM — Hilirisasi nikel terus menjadi bagian penting dalam transformasi ekonomi Indonesia. Investasi di sektor hilirisasi nikel sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp185,2 triliun, sementara hingga semester I 2026 nilainya telah mencapai sekitar Rp71 triliun.
Peningkatan aktivitas pengolahan nikel turut memberikan dampak terhadap daerah penghasil. Di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, misalnya, sektor pertambangan dan penggalian menyumbang Rp13,29 triliun dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp31,65 triliun pada 2025.
Namun, peningkatan nilai ekonomi tersebut juga diikuti kebutuhan energi yang besar. Pengolahan nikel termasuk aktivitas dengan intensitas energi tinggi dan menjadi salah satu tantangan dalam upaya menekan emisi karbon.
Permintaan Nikel Terus Meningkat
Permintaan nikel global ikut terdorong oleh pertumbuhan kendaraan listrik. International Energy Agency (IEA) mencatat permintaan nikel meningkat sekitar 6 hingga 8 persen pada 2024.
Sektor energi menyumbang sekitar 85 persen pertumbuhan permintaan berbagai mineral yang digunakan dalam teknologi energi, termasuk nikel, kobalt, grafit, dan litium.
Di sisi lain, IEA mencatat intensitas karbon rata-rata listrik yang digunakan dalam pemurnian nikel mencapai sekitar 603 gram CO2 per kilowatt-jam. Angka tersebut termasuk yang tertinggi dibandingkan sejumlah mineral lain yang dianalisis.
Target Penurunan Emisi hingga 81 Persen
Pemerintah bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia telah menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Nasional. Peta jalan yang diluncurkan pada Juni 2025 tersebut menargetkan pengurangan emisi industri nikel hingga 81 persen pada 2045.
Target tersebut menjadi penting karena tanpa intervensi, emisi industri nikel diperkirakan dapat meningkat hingga 86 persen pada 2045.
Empat jalur utama disiapkan untuk mencapai target tersebut, yakni efisiensi energi dan material, penggantian bahan bakar, substitusi material, serta penggunaan listrik rendah karbon.
Peralihan menuju listrik rendah karbon menjadi salah satu perhatian utama karena pembangkit listrik captive berbahan bakar batu bara masih menjadi sumber emisi terbesar dalam industri nikel.
Peta jalan tersebut merekomendasikan pembangunan sekitar 47,3 gigawatt pembangkit energi terbarukan hingga 2045 untuk mendukung proses dekarbonisasi industri nikel.
Sorowako Manfaatkan Tenaga Air
Di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, PT Vale Indonesia telah memanfaatkan tenaga air untuk mendukung kebutuhan listrik kegiatan pengolahan nikel.
Vale mengoperasikan tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yakni Larona, Balambano, dan Karebbe dengan total kapasitas terpasang 365 megawatt.
Berdasarkan informasi perusahaan, pembangkit tersebut dapat menghindarkan emisi lebih dari 1 juta ton CO2 ekuivalen per tahun apabila dibandingkan dengan pembangkit berbasis batu bara.
Meski demikian, penggunaan energi terbarukan belum membuat seluruh kegiatan produksi nikel di Sorowako bebas dari bahan bakar fosil. Laporan Keberlanjutan 2025 Vale mencatat energi terbarukan menyumbang sekitar 30,9 persen dari total penggunaan energi di wilayah tersebut.
Pada tahun yang sama, operasi Sorowako masih menggunakan sekitar 434.692 ton batu bara, selain minyak bakar dan bahan bakar diesel. Total emisi Scope 1 dan Scope 2 tercatat sekitar 2,07 juta ton CO2e.
Upaya Menekan Emisi Smelter
Vale menyusun Decarbonization Roadmap untuk Sorowako yang mencakup elektrifikasi, optimalisasi proses, pemanfaatan panas buangan, serta pengurangan penggunaan diesel.
Perusahaan menargetkan emisi absolut Scope 1 dan Scope 2 turun 33 persen pada 2030 dibandingkan dengan baseline 2017.
Sejumlah program efisiensi juga telah diterapkan. Sistem Logic Cascade pada reduction kiln, misalnya, disebut menghasilkan penghematan energi sebesar 346.413 GJ dan mengurangi emisi sekitar 33.285 ton CO2 ekuivalen.
Program REALITAS juga menghasilkan penghematan energi sebesar 142.529 GJ sekaligus meningkatkan porsi energi terbarukan sebesar 2 persen.
Pengelolaan Limbah Produksi
Tantangan hilirisasi nikel bukan hanya berkaitan dengan emisi karbon, tetapi juga limbah produksi. Salah satu material sisa dari proses peleburan adalah slag.
Di Sorowako, PT Vale mencatat sekitar 4,54 juta ton slag dihasilkan pada 2023. Sebagian besar, sekitar 4,41 juta ton, dimanfaatkan kembali sebagai material konstruksi dan lapisan jalan tambang.
Pemanfaatan tersebut kemudian dikembangkan melalui program Slag Warrior. Perusahaan menyebut lebih dari 5 juta ton slag telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan konstruksi internal selama periode operasinya.
Pada 2024, pemanfaatan slag sebagai road base tercatat mencapai 377.964 ton. Vale juga mengembangkan pemanfaatan panas yang masih tersimpan dalam proses granulasi slag untuk meningkatkan efisiensi energi.
Limbah Lain Dimanfaatkan Kembali
Selain slag, perusahaan juga memanfaatkan kembali sejumlah material lain dari kegiatan operasional. Pada 2024, oli bekas dari pemeliharaan alat berat dan kendaraan digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk proses pengeringan dan reduksi.
Langkah tersebut disebut mampu mengurangi timbulan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) hingga 1.107 ton. Material seperti besi bekas juga dimanfaatkan kembali untuk memperpanjang masa penggunaan komponen alat berat.
Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa tantangan hilirisasi nikel kini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas pengolahan dan nilai investasi. Pengurangan jejak karbon serta pemanfaatan kembali material sisa menjadi bagian penting dalam menentukan keberlanjutan industri tersebut.
Dengan meningkatnya kebutuhan nikel untuk kendaraan listrik dan teknologi energi, pengembangan industri nikel rendah karbon menjadi semakin relevan. Penggunaan energi yang lebih bersih dalam proses produksi juga menjadi salah satu faktor yang akan menentukan jejak lingkungan dari rantai pasok kendaraan listrik dan teknologi energi di masa mendatang.
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi mengenai perkembangan hilirisasi nikel di Indonesia, upaya dekarbonisasi industri, pemanfaatan energi terbarukan, serta pengelolaan limbah produksi. Data investasi, emisi, energi, dan pemanfaatan limbah mengacu pada informasi yang tercantum dalam sumber pemberitaan.
COMMENTS