![]() |
| gambar ilustrasi |
JAKARTA, LAJUSIAR.COM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Berdasarkan perbandingan kurs yang diberitakan Tribunnews, rupiah bergerak dari sekitar Rp15.465 per dolar AS pada awal pemerintahan menjadi Rp17.938 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (15/10/2026).
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa jumlah rupiah yang dibutuhkan untuk membeli satu dolar AS meningkat Rp2.473. Jika dihitung berdasarkan angka pembanding itu, kenaikan kurs dolar mencapai sekitar 16 persen. Kondisi tersebut mencerminkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS, meskipun angka persentasenya dapat berbeda apabila menggunakan tanggal acuan dan metode pengukuran yang berbeda.
Pergerakan nilai tukar menjadi salah satu indikator ekonomi yang mendapat perhatian menjelang genap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran pada 20 Oktober 2026. Meski demikian, perubahan kurs selama periode tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai akibat satu kebijakan atau semata-mata kinerja pemerintah, karena nilai tukar dipengaruhi berbagai faktor global dan domestik.
Rupiah Ditutup di Level Rp17.938 per Dolar AS
Pada perdagangan Kamis (15/10/2026), rupiah ditutup melemah 35 poin atau sekitar 0,20 persen ke posisi Rp17.938 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.903 per dolar AS.
Data tersebut dilaporkan oleh ANTARA dengan mengutip keterangan Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX). Ia menjelaskan bahwa pergerakan rupiah masih dipengaruhi langkah stabilisasi Bank Indonesia, kondisi fundamental ekonomi nasional, serta perkembangan pasar keuangan global.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama tercatat sebesar Rp17.948 per dolar AS, melemah dari Rp17.898 pada hari sebelumnya.
Perbedaan angka kurs penutupan pasar dan JISDOR terjadi karena keduanya menggunakan mekanisme pengukuran yang berbeda. Oleh sebab itu, perbandingan nilai tukar perlu menyebutkan acuan yang digunakan agar pembaca tidak mencampurkan data dari metode yang berlainan.
Penguatan Dolar AS Menambah Tekanan
Salah satu faktor eksternal yang memengaruhi rupiah adalah penguatan dolar AS. Pergerakan mata uang tersebut berkaitan dengan perkembangan inflasi di Amerika Serikat serta ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.
Dalam laporan ANTARA pada 15 Oktober 2026, inflasi AS pada September disebut mencapai 3,7 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan 3,4 persen pada Agustus. Perkembangan tersebut memperkuat perkiraan bahwa The Fed dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.
Ketika suku bunga AS diperkirakan bertahan tinggi, aset keuangan berbasis dolar dapat menjadi lebih menarik bagi sebagian investor. Kondisi ini berpotensi mendorong aliran modal menuju aset berdenominasi dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Namun, arah pergerakan nilai tukar tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi, kebijakan bank sentral, serta respons pasar. Ekspektasi terhadap suku bunga bukan berarti keputusan The Fed telah dipastikan, sehingga perkembangannya masih perlu dipantau.
Arus Modal dan Kondisi Ekonomi Domestik Turut Diperhatikan
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati arus modal asing, kebutuhan valuta asing, serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Permintaan dolar untuk kegiatan impor, pembayaran kewajiban luar negeri, dan transaksi bisnis dapat memengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing.
Di sisi lain, stabilitas ekonomi, pertumbuhan konsumsi, kebijakan fiskal, serta langkah Bank Indonesia juga berperan dalam membentuk kepercayaan investor terhadap rupiah. Karena itu, pelemahan kurs perlu dilihat melalui berbagai indikator, bukan hanya satu angka pada penutupan perdagangan.
Amru Syifa menilai penjualan eceran domestik masih menunjukkan pertumbuhan. Penjualan eceran pada Agustus 2026 tercatat tumbuh 1,3 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan pertumbuhan 1,1 persen pada Juli. Penjualan eceran September diprakirakan tumbuh 1,4 persen.
Data tersebut memberikan gambaran bahwa konsumsi domestik masih relatif terjaga. Akan tetapi, kondisi konsumsi yang positif tidak otomatis membuat rupiah menguat karena pergerakan mata uang juga dipengaruhi faktor eksternal dan kebutuhan valuta asing.
Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Masyarakat
Pelemahan rupiah dapat memberikan dampak berbeda terhadap kelompok masyarakat dan sektor usaha. Bagi perusahaan yang bergantung pada bahan baku, mesin, atau barang impor, kenaikan nilai dolar dapat meningkatkan biaya pembelian apabila kebutuhan tersebut dibayar menggunakan mata uang AS.
Jika kenaikan biaya impor diteruskan ke harga jual, konsumen berpotensi menghadapi kenaikan harga pada produk tertentu. Namun, besarnya dampak terhadap harga barang tidak selalu sama karena turut dipengaruhi persediaan, biaya distribusi, kontrak pembelian, dan kemampuan perusahaan menyerap kenaikan biaya.
Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan beban pembayaran kewajiban berdenominasi dolar bagi pihak yang memperoleh pendapatan dalam rupiah. Sebaliknya, eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar berpotensi memperoleh nilai rupiah lebih besar ketika menukarkan pendapatannya, meskipun hasil akhirnya bergantung pada struktur biaya dan transaksi masing-masing perusahaan.
Bagi masyarakat, perkembangan kurs penting diperhatikan karena dapat memengaruhi harga sejumlah barang, biaya perjalanan ke luar negeri, serta kebutuhan pembayaran dalam valuta asing. Meski begitu, pelemahan rupiah tidak berarti seluruh harga barang di dalam negeri akan langsung naik dalam persentase yang sama.
Dua Tahun Pemerintahan Tidak Cukup Dinilai dari Kurs
Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, nilai tukar menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk membaca perkembangan ekonomi. Namun, penilaian menyeluruh terhadap kinerja pemerintahan membutuhkan data lain, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, investasi, pengangguran, kemiskinan, daya beli masyarakat, dan kondisi keuangan negara.
Pergerakan rupiah juga harus dibandingkan dengan kondisi mata uang negara lain serta perubahan ekonomi global pada periode yang sama. Langkah tersebut diperlukan untuk membedakan pengaruh faktor internasional dari faktor yang berasal dari kebijakan domestik.
Pemerintah dan otoritas moneter menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, pengelolaan arus modal, serta penguatan fundamental ekonomi menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah.
Ke depan, perkembangan inflasi AS, arah kebijakan The Fed, arus modal asing, serta kondisi permintaan dan penawaran dolar di dalam negeri akan menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati. Perkembangan indikator tersebut dapat membantu memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah pergerakan rupiah.
Catatan Redaksi: Perbandingan kurs rupiah dari sekitar Rp15.465 menjadi Rp17.938 per dolar AS menunjukkan peningkatan nilai tukar dolar dalam rupiah sekitar 16 persen berdasarkan angka yang diberitakan. Namun, perubahan tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai ukuran tunggal keberhasilan atau kegagalan pemerintahan Prabowo-Gibran. Nilai tukar dipengaruhi faktor global, kondisi pasar keuangan, kebijakan moneter, serta fundamental ekonomi domestik. LajuSiar menyajikan data dan konteks agar pembaca dapat menilai perkembangan ekonomi secara lebih utuh.

COMMENTS