HO/IST/HO/IST
ANKARA, LAJUSIAR.COM — Turki kembali berupaya membuka jalan untuk bergabung lagi dalam program jet tempur siluman F-35 Amerika Serikat. Namun, persoalan sistem pertahanan udara Rusia S-400 yang masih dimiliki Ankara menjadi salah satu hambatan utama.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelumnya menyatakan Ankara menunggu langkah konkret dari Washington terkait kemungkinan kembalinya Turki ke program F-35. Pemerintah Turki juga masih membahas sejumlah opsi untuk menyelesaikan persoalan S-400.
S-400 Jadi Syarat Penting untuk F-35
Turki dikeluarkan dari program F-35 setelah membeli dan menerima sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia. Washington menilai keberadaan S-400 dapat menimbulkan risiko terhadap informasi sensitif dan teknologi pesawat tempur siluman F-35.
Selain dikeluarkan dari program, Amerika Serikat juga menjatuhkan sanksi berdasarkan Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).
Undang-undang Amerika Serikat juga membatasi transfer F-35 kepada Turki selama Ankara masih memiliki S-400 atau peralatan terkait sistem tersebut.
Belum Jelas Akan Dijual ke Negara Mana
Salah satu opsi yang dibahas adalah memindahkan atau menjual S-400 Turki kepada negara ketiga. Sejumlah laporan sebelumnya menyebut Uni Emirat Arab dan Qatar sebagai negara yang mungkin menjadi tujuan.
Namun, belum ada konfirmasi resmi bahwa salah satu dari kedua negara tersebut akan membeli atau menerima sistem S-400 milik Turki.
Pada 28 September 2026, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan Moskwa dapat menyetujui pemindahan S-400 Turki ke negara ketiga yang dianggap bersahabat dengan Rusia.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kemudian mengonfirmasi bahwa Rusia masih berkomunikasi dengan Turki mengenai masa depan sistem tersebut. Kementerian Pertahanan Turki juga menyatakan pekerjaan terkait S-400 masih berlangsung tanpa mengonfirmasi adanya kesepakatan penjualan.
UAE Sempat Disebut sebagai Opsi
Uni Emirat Arab sebelumnya menjadi salah satu opsi yang banyak dibicarakan. Pada September 2026, anggota Kongres Amerika Serikat Darrell Issa bahkan menyebut transfer S-400 ke UAE sebagai salah satu kemungkinan penyelesaian persoalan antara Turki dan Amerika Serikat.
Namun, pembahasan tersebut belum menghasilkan kepastian mengenai pemindahan sistem pertahanan udara Rusia tersebut.
Persoalannya tidak hanya menyangkut keputusan Turki dan negara calon penerima. Karena S-400 merupakan sistem buatan Rusia, persetujuan Moskwa juga menjadi bagian dari pembahasan.
Turki Menunggu Langkah Konkret AS
Erdogan mengatakan pada September 2026 bahwa Presiden AS Donald Trump telah menunjukkan kemauan politik untuk membuka jalan bagi kembalinya Turki ke program F-35. Ankara kini menunggu kemauan tersebut diterjemahkan menjadi langkah konkret.
Trump sebelumnya juga menyatakan kesediaannya untuk mempertimbangkan penjualan F-35 kepada Turki. Namun, proses tersebut tetap menghadapi persyaratan hukum dan regulasi Amerika Serikat, termasuk ketentuan yang berkaitan dengan kepemilikan S-400.
Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack mengatakan penyelesaian persoalan hukum dan regulasi terkait S-400 membutuhkan waktu. Menurutnya, Ankara dan Washington masih bekerja memenuhi persyaratan yang ditetapkan Kongres AS.
Nasib S-400 Masih Menjadi Kunci
Dengan demikian, keinginan Turki untuk kembali memperoleh F-35 masih berkaitan erat dengan penyelesaian status S-400. Ankara harus menentukan formula yang dapat diterima oleh Turki, Rusia, dan Amerika Serikat.
Untuk saat ini, belum ada kepastian mengenai negara yang akan menerima atau membeli sistem S-400 tersebut. Pembahasan mengenai opsi pemindahan masih berlangsung di tengah upaya Turki dan Amerika Serikat memperbaiki kerja sama pertahanan kedua negara.
Catatan Redaksi: Informasi mengenai kemungkinan pemindahan atau penjualan S-400 Turki masih berupa opsi dan pembahasan. Hingga laporan ini disusun, belum ada konfirmasi resmi mengenai negara yang akan menerima sistem tersebut maupun kesepakatan final mengenai kembalinya Turki ke program F-35.
COMMENTS