KOMPAS.com/Suparjo Ramalan
JAKARTA, LAJUSIAR.COM — Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di lingkungan perusahaan Indonesia terus berkembang. Teknologi ini mulai digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan bisnis, mulai dari penyusunan strategi hingga pelaksanaan pekerjaan operasional.
Namun, meningkatnya penggunaan AI juga membuat perusahaan menghadapi tantangan baru. Persoalan tidak lagi hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga kesiapan data, sumber daya manusia, strategi, serta kemampuan organisasi dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis.
Adopsi AI Masih Banyak Berada di Tahap Pilot
Studi IBM Institute for Business Value menunjukkan bahwa penerapan AI di Indonesia masih berada pada tahap awal. Sebanyak 67 persen organisasi di Indonesia masih menjalankan AI pada tahap pilot dengan penerapan yang terbatas.
Angka tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 60 persen dan rata-rata Asia Pasifik sebesar 64 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun perusahaan mulai meningkatkan pemanfaatan AI, proses untuk membawa teknologi tersebut ke penerapan yang lebih luas masih menghadapi sejumlah tantangan.
Peran Chief AI Officer Mulai Mendapat Perhatian
Seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap strategi AI, posisi Chief AI Officer (CAIO) juga mulai mendapat perhatian. CAIO merupakan pejabat yang memiliki tanggung jawab dalam mengarahkan strategi dan penerapan AI di dalam organisasi.
Di Indonesia, sebanyak 54 persen CAIO menempatkan strategi AI organisasi sebagai salah satu prioritas utama. Selain itu, 50 persen memprioritaskan pengarahan implementasi AI, sedangkan 39 persen berfokus pada strategi manajemen perubahan untuk mendukung adopsi teknologi tersebut.
Dari sisi latar belakang, 72 persen CAIO di Indonesia memiliki pengalaman di bidang data. Sebanyak 56 persen lainnya berasal dari peran di bidang teknologi, sementara 61 persen memiliki fokus pada inovasi.
Tantangan Bergeser ke Data dan Implementasi
Perkembangan AI membuat kualitas dan kesiapan data menjadi bagian penting dalam proses penerapannya. Sistem AI membutuhkan data yang dapat dikelola dan diintegrasikan agar penggunaannya dapat mendukung kebutuhan bisnis secara efektif.
Tantangan terkait data juga menjadi perhatian dalam adopsi AI di Indonesia. Laporan mengenai penerapan AI pada perusahaan menunjukkan bahwa infrastruktur data yang belum dirancang untuk kebutuhan real-time dan sistem otonom dapat menghambat pengembangan AI.
Selain persoalan data, perusahaan juga perlu memastikan adanya tata kelola, keamanan, serta kesiapan tenaga kerja. Dengan semakin luasnya penggunaan AI, organisasi perlu menyesuaikan proses kerja agar teknologi tersebut dapat digunakan secara terukur dan bertanggung jawab.
Dukungan Pimpinan Perusahaan
Studi IBM juga mencatat dukungan yang cukup besar dari jajaran pimpinan perusahaan terhadap peran CAIO di Indonesia. Sebanyak 83 persen CAIO Indonesia melaporkan memperoleh dukungan yang memadai dari CEO, sementara persentase yang sama menyatakan mendapat dukungan dari jajaran C-suite.
Meski demikian, dukungan pimpinan perlu diikuti dengan strategi implementasi yang jelas. Perusahaan tidak hanya dituntut memiliki teknologi AI, tetapi juga perlu menentukan penggunaan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis serta memastikan data dan sumber daya yang digunakan telah siap.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pemanfaatan AI di perusahaan Indonesia mulai bergeser. Jika sebelumnya perhatian banyak tertuju pada kemampuan teknologi, kini kesiapan data, strategi implementasi, tata kelola, dan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam proses adopsi AI.
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi mengenai perkembangan adopsi kecerdasan buatan di perusahaan Indonesia dan temuan studi IBM Institute for Business Value. Angka dan kondisi penerapan AI dapat berubah seiring perkembangan teknologi, strategi perusahaan, serta hasil penelitian terbaru.
COMMENTS