| (AFP/JOSHUA ROBERTS) |
WASHINGTON, LAJUSIAR.COM — Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) disebut turut berkontribusi dalam serangan rudal Amerika Serikat yang menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, Iran, pada Februari 2026. Temuan tersebut muncul dalam laporan mengenai penyelidikan internal Pentagon yang belum dipublikasikan.
Serangan terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh itu menewaskan lebih dari 150 orang, termasuk banyak anak-anak. Dua rudal Tomahawk dilaporkan menghantam sekolah tersebut pada 28 Februari 2026.
AI Disebut Terlalu Diandalkan
Menurut laporan yang mengutip pejabat yang mengetahui proses penyelidikan Pentagon, salah satu persoalan yang ditemukan adalah ketergantungan berlebihan pada sistem AI dalam proses analisis intelijen dan penentuan target.
Sistem yang digunakan merupakan Maven Smart System, platform yang dikembangkan Palantir untuk mengintegrasikan dan menganalisis berbagai data intelijen. Sistem tersebut digunakan untuk membantu mempercepat proses identifikasi dan penyusunan daftar target.
Dalam kasus Minab, lokasi sekolah masih tercatat dalam basis data militer sebagai fasilitas yang berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Informasi tersebut disebut sudah tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Citra Satelit Lama Ikut Menjadi Masalah
Penyelidikan juga menemukan persoalan pada data intelijen dan citra satelit yang digunakan. Informasi lama membuat lokasi yang sebenarnya telah menjadi sekolah tetap teridentifikasi sebagai fasilitas militer.
Padahal, citra satelit komersial menunjukkan adanya perubahan pada kawasan tersebut. Bangunan sekolah disebut telah memiliki tembok dan akses terpisah dari kompleks militer di sebelahnya sejak beberapa tahun sebelumnya.
Sejumlah catatan analis mengenai perubahan kondisi lokasi juga disebut tidak masuk ke dalam basis data intelijen utama yang digunakan dalam proses penentuan target.
Serangan Terjadi di Tengah Operasi Besar
Kesalahan tersebut terjadi ketika militer AS melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Lebih dari 1.000 target disebut diserang dalam 24 jam pertama operasi.
Besarnya jumlah target membuat waktu yang tersedia untuk melakukan pemeriksaan tambahan terhadap setiap lokasi menjadi semakin terbatas. Tim yang bertugas menangani potensi korban sipil juga disebut mengalami pengurangan jumlah personel dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam penyelidikan tersebut, tidak ditemukan catatan bahwa tim mitigasi korban sipil meninjau lokasi sekolah Minab sebelum serangan dilakukan.
Pentagon Masih Menyelidiki
Pentagon belum mempublikasikan hasil lengkap penyelidikan internal tersebut. Departemen Pertahanan AS juga menyatakan penyelidikan terhadap insiden itu masih berlangsung.
Sementara itu, pihak Palantir menyatakan perangkat lunaknya tidak bertanggung jawab atas kualitas data yang dimasukkan ke dalam sistem maupun proses identifikasi kekurangan intelijen. Tanggung jawab atas data dan keputusan penargetan tetap berada pada pihak pemerintah dan pengguna sistem.
Temuan PBB Berbeda dengan Penjelasan soal Kesalahan
Temuan mengenai peran AI muncul bersamaan dengan laporan misi pencari fakta independen PBB mengenai serangan terhadap sekolah tersebut.
Misi tersebut menyatakan terdapat dasar yang masuk akal untuk meyakini bahwa serangan terhadap sekolah Minab merupakan serangan yang melanggar hukum humaniter internasional. Mereka juga menilai pihak AS gagal melakukan langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa lokasi tersebut merupakan sasaran militer.
Pemerintah AS sebelumnya menyatakan operasi militernya dilakukan sesuai hukum konflik bersenjata. Pentagon sendiri belum memberikan kesimpulan publik mengenai hasil penyelidikan internalnya.
Dengan demikian, AI bukan satu-satunya faktor yang disebut dalam penyelidikan. Data intelijen yang sudah usang, citra satelit lama, serta proses verifikasi target juga menjadi bagian dari rangkaian persoalan yang sedang diperiksa.
Catatan Redaksi: Informasi mengenai keterlibatan AI dalam proses penentuan target berasal dari laporan mengenai penyelidikan internal Pentagon yang belum dipublikasikan secara lengkap. Peran AI dalam insiden tersebut perlu dibedakan dari keputusan penargetan yang tetap melibatkan manusia.
COMMENTS