YOGYAKARTA, LAJUSIAR.COM - Perubahan data desil kesejahteraan membuat seorang lansia sebatang kara di Kota Yogyakarta kehilangan bantuan sosial yang selama ini menjadi salah satu penopang kehidupannya.
Yoyok Sunaryo (67), warga Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, harus menerima kenyataan tidak lagi memperoleh bantuan setelah status desilnya berubah.
Pria yang tinggal seorang diri di rumah kontrakan tersebut sebelumnya menerima bantuan melalui Program Keluarga Harapan (PKH), termasuk beras sebanyak 20 kilogram dan uang tunai Rp600 ribu setiap tiga bulan.
Bantuan Berhenti Setelah Desil Berubah
Yoyok mengatakan dirinya mengetahui perubahan status tersebut setelah dilakukan pengecekan. Ia disebut masuk dalam kelompok desil 6 hingga 10 sehingga tidak lagi mendapatkan bantuan seperti sebelumnya.
“Katanya masuk desil 6-10. Sekarang sudah enggak dapat bantuan beras dan sebagainya lagi,” kata Yoyok saat ditemui di kediamannya, Jumat (4/9/2026).
Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi Yoyok karena dirinya kini tidak mampu bekerja seperti sebelumnya.
Ia pernah mendapatkan penghasilan dari jasa membersihkan pekarangan. Namun, kondisi kesehatannya yang menurun membuat pekerjaan tersebut harus dihentikan.
Hidup Mengandalkan Bantuan Tetangga
Dalam kesehariannya, Yoyok kini lebih banyak bergantung pada kepedulian warga sekitar.
Tetangga secara bergantian membantu menyediakan makanan agar kebutuhan sehari-harinya tetap terpenuhi.
Kondisi tempat tinggal Yoyok juga jauh dari kata layak. Ia tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana dengan lantai semen dan tanpa plafon.
Yoyok mengatakan rumah tersebut disewanya dengan biaya sekitar Rp2,5 juta per tahun.
Di tengah kondisi ekonomi dan kesehatan yang sulit, perubahan status penerima bantuan membuat kehidupannya semakin berat.
Kasus Yoyok menjadi gambaran persoalan yang muncul setelah adanya perubahan klasifikasi desil kesejahteraan, terutama ketika data yang tercatat dinilai tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi kehidupan masyarakat di lapangan.
COMMENTS