| Tribun Jogja/Azka Ramadhan |
YOGYAKARTA, LAJUSIAR.COM - Rangkaian kasus dugaan keracunan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Daerah Istimewa Yogyakarta mendapat perhatian Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Sri Sultan menilai persoalan tersebut perlu dilihat dari sisi kesiapan pengelola, terutama kemampuan dapur dalam mengolah makanan dalam jumlah besar. Menurutnya, kapasitas produksi yang tidak sesuai dengan fasilitas dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah pada makanan.
Sultan Soroti Kemampuan Dapur MBG
Sri Sultan menilai pengelolaan makanan dalam jumlah ribuan porsi membutuhkan fasilitas dan sistem kerja yang memadai.
Ia mencontohkan bahwa dapur dengan kapasitas terbatas akan kesulitan apabila harus memproduksi makanan dalam jumlah sangat besar dalam waktu yang singkat.
“Kalau mau bikin 3.000 porsi, ya nggak bisa,” ujar Sri Sultan saat memberikan tanggapan mengenai persoalan tersebut.
Menurutnya, pengelola perlu mempertimbangkan kemampuan tenaga memasak, peralatan, hingga fasilitas penyimpanan bahan makanan sebelum menentukan jumlah porsi yang harus diproduksi.
Penyimpanan Bahan Makanan Tak Boleh Diabaikan
Selain proses memasak, Sri Sultan juga menyoroti pengelolaan bahan makanan sebelum diolah.
Bahan seperti daging membutuhkan tempat penyimpanan dengan kondisi yang sesuai. Jika jumlah bahan yang disimpan sangat banyak tetapi fasilitas penyimpanannya tidak memadai, kualitas makanan berpotensi mengalami penurunan.
Karena itu, menurut Sultan, persoalan keamanan pangan tidak cukup hanya ditangani melalui pengawasan. Kesiapan fasilitas dapur juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan sejak awal.
Kapasitas Produksi Perlu Disesuaikan
Sri Sultan mendorong agar produksi makanan MBG tidak dipaksakan melebihi kemampuan dapur.
Ia menilai pembagian produksi ke dalam kelompok atau unit yang lebih kecil dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi beban pengolahan makanan.
Dengan pembagian tersebut, proses memasak dapat dilakukan dengan kapasitas yang lebih realistis dan pengelola memiliki waktu yang cukup untuk memastikan makanan diproses serta disajikan dengan baik.
Kasus Keracunan Jadi Bahan Evaluasi
Munculnya sejumlah kasus dugaan keracunan MBG di DIY menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program.
Evaluasi tidak hanya menyangkut makanan yang telah dikonsumsi, tetapi juga seluruh rangkaian proses, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi.
Hasil pemeriksaan nantinya diperlukan untuk memastikan penyebab setiap kejadian secara objektif dan menentukan langkah perbaikan yang tepat.
Keamanan Makanan Jadi Perhatian
Program MBG memiliki cakupan penerima yang besar sehingga standar keamanan pangan menjadi hal yang sangat penting.
Setiap dapur penyedia makanan perlu memastikan kapasitas produksi sejalan dengan fasilitas, sumber daya manusia, serta kemampuan penyimpanan yang tersedia.
Masukan Sri Sultan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang dapat diproduksi, tetapi juga kualitas dan keamanan makanan yang diterima para siswa.
Pemerintah Perlu Perkuat Pengawasan
Kasus yang terjadi di DIY juga menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan MBG harus dilakukan secara menyeluruh.
Kesiapan dapur, kapasitas produksi, kualitas bahan makanan, hingga proses distribusi perlu menjadi bagian dari evaluasi agar kejadian serupa dapat dicegah.
Dengan perbaikan sistem dan pengawasan yang lebih ketat, program MBG diharapkan dapat berjalan sesuai tujuan tanpa mengabaikan aspek keselamatan penerima manfaat.
COMMENTS