| Tribunnews |
JAKARTA, LAJUSIAR.COM - Indonesia melihat peluang besar untuk memperkuat posisi di pasar global melalui pengembangan industri berbasis pertanian dan sumber daya hayati di tengah peran Indonesia dalam BRICS.
Penguatan sektor agro-industri dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperluas akses produk Indonesia ke pasar internasional.
Indonesia Dorong Agro-Industri di BRICS
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyebut Indonesia memiliki kekuatan sumber daya hayati yang dapat menjadi modal untuk mengembangkan industri berbasis agro.
Menurutnya, Indonesia berpeluang mengambil peran penting dalam pengembangan agro-industri di antara negara-negara BRICS. Potensi tersebut dapat didukung melalui pengolahan komoditas pertanian menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Sejumlah subsektor yang dinilai memiliki prospek antara lain kopi, kakao, tembakau, serta industri makanan dan minuman.
Nilai Tambah Agro Dinilai Besar
Pengembangan hilirisasi sektor agro juga dinilai dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian. Kajian LPEM FEB UI menyebut keterkaitan sektor hulu dan hilir dalam industri berbasis pertanian memiliki potensi untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas.
Potensi pasar global juga menjadi salah satu faktor pendukung. Industri makanan dan minuman artisan diperkirakan terus mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun mendatang.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat ekspor produk olahan, bukan hanya mengandalkan penjualan komoditas dalam bentuk bahan mentah.
Tantangan Pasokan Bahan Baku
Meski peluangnya besar, pengembangan industri agro masih menghadapi persoalan ketersediaan bahan baku dalam negeri.
Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia Jeffrey Haribowo mengatakan industri kakao nasional masih membutuhkan bahan baku impor karena pasokan domestik belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri.
Kebutuhan bahan baku kakao nasional disebut mencapai sekitar 450.000 ton per tahun. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu diselesaikan agar proses hilirisasi dapat berjalan lebih optimal.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong penguatan produksi dan hilirisasi pangan. Dalam KTT BRICS 2026, Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan bahwa Indonesia ingin memperkuat kapasitas produksi pangan serta meningkatkan kontribusi terhadap ketahanan pangan dunia.
Penguatan kerja sama industri, rantai pasok, dan perdagangan di lingkungan BRICS menjadi bagian dari upaya Indonesia memperluas peluang ekonomi sekaligus meningkatkan nilai tambah produk nasional.
COMMENTS