| Tribun Jogja/Alexander Aprita |
SLEMAN, LAJUSIAR.COM - Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati menyoroti kapasitas produksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonokerto, Turi, Sleman, dalam penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sorotan tersebut disampaikan Esti saat melakukan inspeksi mendadak ke dapur SPPG Wonokerto pada Sabtu (12/9/2026). Kunjungan dilakukan setelah muncul dugaan gangguan kesehatan yang dialami sejumlah penerima manfaat MBG di wilayah Turi.
Dalam kunjungan itu, Esti melihat sejumlah fasilitas yang digunakan dalam proses penyediaan makanan. Di antaranya ruang memasak, tempat pencucian bahan baku, hingga ruang pendingin untuk penyimpanan bahan pangan.
Kapasitas Ribuan Porsi Jadi Perhatian
Salah satu hal yang menjadi perhatian Esti adalah jumlah penerima manfaat yang dilayani SPPG Wonokerto. Dapur tersebut tercatat menyiapkan makanan untuk sekitar 2.682 penerima manfaat setiap hari.
Menurut Esti, penyediaan makanan dalam jumlah ribuan porsi membutuhkan pengelolaan yang tidak sederhana. Kapasitas produksi harus diimbangi dengan kesiapan fasilitas, tenaga kerja, pengolahan bahan pangan, hingga pengawasan terhadap makanan yang telah diproduksi.
Ia menilai pembagian tahapan produksi dapat menjadi salah satu cara untuk mengelola beban kerja ketika jumlah makanan yang harus disiapkan sangat besar.
Selain kapasitas produksi, Esti juga menekankan pentingnya kompetensi para pekerja di dapur SPPG. Pengetahuan mengenai karakteristik bahan makanan, penyimpanan, batas waktu bahan berada di luar ruang penyimpanan, serta proses memasak dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan pangan.
Pelabelan Makanan Turut Disorot
Esti juga menyoroti penerapan standar operasional prosedur (SOP) Badan Gizi Nasional (BGN), khususnya mengenai pelabelan pada wadah makanan.
Menurutnya, label pada setiap wadah perlu diterapkan secara disiplin karena berkaitan dengan informasi batas waktu konsumsi makanan.
Ia meminta standar yang telah ditetapkan BGN dapat diterapkan secara menyeluruh dalam proses penyediaan MBG, sehingga setiap tahapan pengolahan dan distribusi makanan memiliki pengawasan yang jelas.
SPPG Wonokerto Dievaluasi
Operasional SPPG Wonokerto sebelumnya dihentikan sementara untuk memberikan ruang bagi proses pemeriksaan dan evaluasi. Penghentian tersebut mencakup evaluasi terhadap proses pengolahan serta rantai pasok makanan.
Dalam perkembangan pemeriksaan, hasil laboratorium yang disampaikan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman pada 16 September 2026 menemukan Bacillus cereus positif pada sampel nasi dari SPPG Wonokerto.
Meski demikian, Dinas Kesehatan belum menetapkan hasil tersebut sebagai penyebab definitif dan masih menunggu penggabungan hasil pemeriksaan lanjutan dengan data epidemiologi serta investigasi pangan.
Catatan tersebut penting karena dugaan penyebab dalam suatu kejadian keracunan makanan perlu didasarkan pada keseluruhan hasil pemeriksaan, bukan hanya satu temuan laboratorium.
Catatan Redaksi: Program Makan Bergizi Gratis membutuhkan pengawasan pada seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan hingga distribusi. Dalam kasus SPPG Wonokerto, proses pemeriksaan dan evaluasi masih menjadi dasar untuk memastikan rangkaian kejadian serta faktor yang berkaitan dengan munculnya gangguan kesehatan pada penerima manfaat.
COMMENTS