gambar ilustrasi
JAKARTA, LAJUSIAR.COM - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (21/9/2026). Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat seiring meningkatnya imbal hasil obligasi AS dan perhatian investor terhadap arah kebijakan suku bunga.
Pada perdagangan pagi, rupiah berada di kisaran Rp17.783 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.758 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah turut berkaitan dengan kondisi pasar obligasi. Investor melakukan aksi jual pada surat utang, terutama Surat Utang Negara (SUN) berjangka pendek, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang domestik.
Imbal Hasil Obligasi AS Jadi Perhatian
Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar. Prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve turut memengaruhi pergerakan dolar AS dan aset keuangan di negara berkembang.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian menjelang agenda Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (23/9/2026).
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyebut rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan akibat kenaikan imbal hasil obligasi AS serta prospek kebijakan suku bunga The Fed.
Rupiah Berpotensi Bergerak Fluktuatif
Pergerakan rupiah selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, kebijakan bank sentral, serta kondisi pasar obligasi.
Investor juga mencermati langkah Bank Indonesia dalam merespons dinamika nilai tukar dan perubahan kondisi moneter global. Situasi tersebut membuat pergerakan rupiah berpotensi tetap fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan.
COMMENTS