| (KOMPAS.com/Firda Janati) |
JAKARTA, LAJUSIAR.COM - Polemik mengenai pembagian desil Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) kembali menjadi perhatian. Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa data yang digunakan untuk menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat tidak mungkin memiliki tingkat akurasi 100 persen.
Penjelasan tersebut disampaikan Kepala BPS di tengah sorotan terhadap hasil pemeringkatan atau desil dalam DTSEN yang menjadi salah satu dasar dalam penyaluran berbagai program pemerintah.
BPS Akui Data Tidak Mungkin Selalu Sempurna
Kepala BPS menegaskan bahwa data mengenai manusia memiliki karakteristik yang dinamis. Kondisi ekonomi dan sosial seseorang dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga data yang telah dikumpulkan pada suatu periode tidak selalu menggambarkan keadaan terbaru secara sempurna.
Karena itu, perbedaan antara kondisi masyarakat di lapangan dengan data yang tercatat dalam sistem merupakan hal yang perlu diantisipasi dalam pengelolaan data sosial ekonomi.
Menurut BPS, tidak tepat apabila kualitas suatu sistem pendataan hanya dinilai dari apakah seluruh informasi di dalamnya dapat mencapai akurasi 100 persen.
Desil DTSEN Menjadi Sorotan
Persoalan desil DTSEN mencuat karena posisi masyarakat dalam kelompok desil dapat berpengaruh terhadap penentuan penerima sejumlah program bantuan maupun kebijakan pemerintah.
Desil merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan kondisi sosial ekonomi. Secara umum, masyarakat ditempatkan dalam kelompok dari tingkat kesejahteraan paling rendah hingga kelompok dengan tingkat kesejahteraan lebih tinggi.
Ketika hasil pengelompokan tersebut dianggap tidak sesuai dengan kondisi nyata seseorang, muncul pertanyaan mengenai mekanisme pemutakhiran dan akurasi data yang digunakan pemerintah.
Kondisi Masyarakat Bisa Berubah
BPS menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pendataan sosial ekonomi adalah perubahan kondisi masyarakat. Pendapatan, pekerjaan, jumlah anggota keluarga, kepemilikan aset, hingga kondisi rumah tangga dapat berubah dalam waktu relatif cepat.
Perubahan tersebut membuat data sosial ekonomi membutuhkan proses pemutakhiran secara berkala agar semakin mendekati kondisi masyarakat yang sebenarnya.
Dengan karakter data yang terus bergerak, BPS menilai tidak realistis apabila sebuah basis data mengenai kondisi manusia dituntut selalu tepat 100 persen pada setiap waktu.
Pemutakhiran Data Tetap Diperlukan
Meski demikian, keterbatasan akurasi bukan berarti kualitas data tidak perlu diperbaiki. Pemutakhiran dan perbaikan data tetap menjadi bagian penting agar kebijakan pemerintah dapat semakin tepat sasaran.
Data yang semakin mutakhir diharapkan mampu mengurangi kesalahan dalam menentukan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program pemerintah.
Dalam konteks DTSEN, proses pembaruan data juga menjadi penting karena hasil pemeringkatan dapat digunakan sebagai salah satu rujukan dalam pelaksanaan program perlindungan sosial dan kebijakan pemerintah.
BPS: Data Harus Terus Diperbaiki
Polemik mengenai desil DTSEN pada akhirnya menunjukkan pentingnya kualitas data dalam pengambilan keputusan pemerintah. Data yang digunakan harus terus dievaluasi agar mampu mengikuti perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
BPS menekankan bahwa tidak ada data manusia yang dapat menjamin akurasi sempurna. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana data tersebut terus diperbarui, diperbaiki, dan digunakan dengan metode yang tepat.
Dengan proses pemutakhiran yang berkelanjutan, pemerintah diharapkan dapat meningkatkan ketepatan sasaran berbagai program, sekaligus meminimalkan masyarakat yang seharusnya menerima manfaat tetapi justru tidak masuk dalam kelompok penerima.
COMMENTS