| (Kompas.com/Bayu Apriliano) |
YOGYAKARTA — Mantan Presiden Joko Widodo menyampaikan pesan mengenai pentingnya etika dalam menggunakan kekuasaan. Menurutnya, jabatan dan kewenangan yang dimiliki seseorang pada dasarnya tidak bersifat permanen sehingga tidak semestinya digunakan untuk menjatuhkan pihak lain.
Pesan tersebut disampaikan Jokowi dalam sebuah kesempatan di Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026). Ia mengingatkan bahwa setiap orang yang memperoleh kekuasaan perlu menyadari bahwa ada masa ketika kewenangan tersebut akan berakhir.
Kekuasaan Bukan Milik Selamanya
Jokowi menekankan bahwa kekuasaan merupakan bagian dari amanah yang memiliki batas waktu. Karena itu, orang yang sedang berada dalam posisi berkuasa perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan maupun memperlakukan pihak lain.
Menurutnya, kewenangan seharusnya digunakan untuk menjalankan tugas dan memberikan manfaat, bukan menjadi sarana untuk membangun dominasi ataupun mencari-cari kelemahan orang lain.
Pandangan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa jabatan tidak seharusnya membuat seseorang merasa memiliki kewenangan tanpa batas.
Jangan Menjatuhkan Orang dengan Kekuasaan
Dalam penyampaiannya, Jokowi juga menyinggung penggunaan kekuasaan untuk menjatuhkan orang lain.
Ia mengingatkan agar kewenangan yang dimiliki tidak digunakan secara berlebihan hanya karena seseorang sedang berada pada posisi yang lebih kuat.
Perbedaan pandangan maupun kepentingan, menurutnya, merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tetap perlu dihadapi dengan sikap yang proporsional dan tidak mengarah pada tindakan yang merugikan pihak lain.
Jabatan Membawa Tanggung Jawab
Kekuasaan tidak hanya berkaitan dengan posisi dan kewenangan, tetapi juga tanggung jawab. Setiap kebijakan yang diambil oleh seorang pemegang jabatan dapat memberikan dampak terhadap masyarakat.
Karena itu, penggunaan kewenangan perlu disertai pertimbangan mengenai kepentingan yang lebih luas. Kekuasaan yang dijalankan tanpa kontrol dan tanggung jawab justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.
Jokowi mengingatkan bahwa ketika masa jabatan berakhir, seseorang akan kembali menjadi bagian dari masyarakat. Karena itu, cara seseorang menggunakan kekuasaan selama memegang amanah akan menjadi bagian dari catatan perjalanan kepemimpinannya.
Pesan tentang Kepemimpinan
Pesan tersebut menempatkan etika sebagai salah satu aspek penting dalam menjalankan kekuasaan. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari keputusan yang dibuat, tetapi juga dari cara menggunakan kewenangan dan memperlakukan orang lain.
Kekuasaan yang bersifat sementara semestinya menjadi alasan untuk semakin berhati-hati, bukan justru digunakan untuk memperkuat kepentingan pribadi atau kelompok.
Dengan demikian, pesan Jokowi menekankan bahwa jabatan pada akhirnya akan berlalu. Yang akan tetap dinilai adalah bagaimana amanah dan kewenangan tersebut digunakan selama seseorang berada dalam posisi berkuasa.